Selasa, 29 November 2016
Kamis, 24 November 2016
Rabu, 23 November 2016
Di Desa Kita Membangun
Beliau adalah Ustad Anwar Harum Maru. Beliau lulusan senior dengan jurusan bahasa Arab di Ibnu Su'ud
Selain ahli bahasa, beliau juga dikenal sebagai guru khot, bahkan bahan ajarnya dibukukan dan digunakan di Malaisia.
Banyak yg tidak kenal beliau, karena beliau lebih memilih mendidik di pelosok yang jauh dari hiruk pikuk kota.
Beliau alumni Gontor, dan banyak sekali alumni gontor yang sudah membangun bangsa ini dari desa.
Prinsip mereka, "Di kota kita belajar, di desa kita membangun."
Kini beliau Pembina Pesantren PPI Darul Abrar Kahu Bone dan merupakan pendiri dan merintis.
Selasa, 22 November 2016
Banyak Jalan Kebaikan
Ini adalah gambar murid senior Taman Menghafal Qur'an yang sedang menikmati mie goreng. Datang menghafal kemudian lapar dan masak mie.
Yakin, ada di sana orang yang tidur tapi tetap memperoleh pahala dari mereka. Ya, yang memfasilitasi mereka Qur'an dan tiap hari mereka menggunaka al-Qur'an itu untuk menghafal.
Dari al-Qur'an itu, mereka hafal ayat perayat, dan setiap yang terucap, orang yang memberi pun mengantongi pahala.
Memfasilitasi gurunya pun sangat berpahala, bagaiaman proses pembelajaran hafalan mau berjalan kalau tidak ada gurunya. Dan alhamdulilla, ustadznya difasilitasi rumah mungil nan sederhana untuk menemani mereka senyum dan senyum bersama pihak-pihak yang telah ikut berkontribusi dalam pembelajaran di Kampus Masyarakat Muslim Jami' Syababul Arbi'a Wonogiri.
Tak Bisa Baca Qur'an Tapi Husnul Khotimah
Mbah Desum Jilbab Hitam Sedang Serius Memperhatikan Bacaan
Ada seorang laki-laki
yang tak bisa membaca Qur'an. Suatu saat beliau sedang berada di masjid Nabawi,
kemudian beliau mengambil Qur'an dan meminta bantuan kepada orang yang berada
di masjid nabawi untuk membacakan Qur'an beberapa lembar biar ia bisa mendengarkannya.
Orang yang diminta untuk
membacakannya pun membacakan ayat perayat sehingga samapailah ia pada ayat
sajadah dan ia pun sujud dan ikutlah sujud orang yang menyuru membacanya.
Saat pembaca bangkit
dari sujudnya, laki-laki yang menyuru untuk membaca tadi tidak lagi bangkit.
Allahu Akbar, orang yang tidak bisa membaca dan hanya senang mendengar, tapi
Allah tutup usianya dengan husnul khotimah.
Allah berfirman
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُونَ (204)
Dan apabila dibacakan Al Quran, maka
dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat
rahmat. QS. Al-A'raf: 204.
Hal serupa yang diperjuangkan oleh Mbah
Desum. Beliau dahulu orang yang bisu, dan qadarulllah di usia senja ini, ia
bisa bertutur walau tidak lancar.
Kurang normal dari segi fisik beliau, tidak
menghalanginya untuk belajar membaca Qur'an dan juga memahami maknanya.
Tangan beliau yang gemetar ketika mendekap
al-Qur'an, juga tidak menjadi alasan untuk tidak memegang al-Qur'an dan
mempelajarinya.
Jalan beliau yang tidak tegak lagi, tidak
menjadikan alasan untuk beliau kemudian menghabiskan umur senja di dalam rumah
saja tanpa berbuat apa-apa.
Beliau datang ke masjid. Memaksakan lidah
beliau untuk menyebutkan penggalan-penggalan huruf.
Dua tahun sudah bacaannya pun begitu susah,
ya karena beliau adalah orang yang tidak bisa bicara dan mulai bisa
mengungkapkan sesuatu, tapi walau begitu, ia tak bosan untuk mendengar, tak
bosan mencerna apa yang saya jelaskan dari makna al-Qur'an.
Tipikal seperti beliaulah yang dimaksud di
dalam ayat di atas dan semoga mendapat rahmat dari Allah sebagaimana janji
Allah dalam ayat di atas.
Bagi yang normal, seharusnya malu dengan
beliau kalau tidak ngaji, atau ngani tapi malas-malasan sedang Mbah Desum tiga
kali seminggu untuk ngaji. Semoga Allah menjadikan kita semua dari keluarga
Qur'an. Aamiin.
Akhukum
Irsun Badrun
Manyaran Wonogiri 22 Nov 2016
Allah Sayang Yang Tak Bisa Baca Qur'an
"Salah satu orang
yang dirahmati Allah adalah orang yang tidak bisa baca Qur'an." Kok bisa?
baca kisah berikut.
Baju merah, adalah
seorang nenek bernama Maryanti. Lihat tatapan tajamnya. Lihat rasa
penasarannya, seakan orang yang sudah mahir membaca al-Qur'an, ternyata tidak,
ia menatap dengan penuh penasaran, menatap benda asing yang belum pernah ia
kenal; ia tidak bisa membacanya.
Hampir dua tahun Ustad Irsun di sini, dan ia seorang lah yang belum bisa membaca sampai sekarang. Dan
hampir dua tahun ini sudah, ia pun tetap setia mendengarkan dan malah menirukan
apa yang disampaikan Ustadz Irsun.
Kadang ditertawakan
teman-temannya yang sudah bisa ketika ia salah mengucapkan, dan sebenarnya bukan
salah, memang tidak bisa tapi memaksakan bisa.
Walau begitu, ia tidak
pernah menyerah untuk tetap duduk mendengarkan apa yang disampaikan di
setiap pertemuan tiga kali seminggu.
Maka dari itu, dapat ditarik
kesimpulan, bahwa boleh jadi ada orang yang tidak bisa membaca al-Qur'an, tapi
termasuk dari orang yang Allah rahmati.
Bagaimana tidak, walau
otak Mbah Maryanti rada terbelakang, tapi apakah Allah akan menyia-nyiakan
usahanya yang duduk di majlis ilmu dan mendengarkan ayat-ayat Allah? Kamu bisa
jawab sendiri.
Manyaran Wonogir 22 November 2016
Langganan:
Komentar (Atom)




