Kamis, 27 Oktober 2016

Dian Kiri Dan Ika Kanan


Saat pertama kali saya tiba, mereka adalah anak kecil. Mereka bermain denganku, berjalan dan berlari bersamaku.


Saat itu, mereka masih pakai celana pendek, kaos oblong dan mungkin bisa dibilang ingusan.
Sampai suatu saat kita bermain dan si Ika menabrak dinding dan copot satu giginya. Saya buka mulutnya dan keluarkan giginya.


Sekarang mereka sudah berbeda. Mereka sudah tumbuh dewasa, dan hafalan mereka pun sudah mencapai satu juz.


Dian, sekarang sudah tidak mengenakkan celana pendek lagi, setiap keluar sudah menutup auratnya walau masih kelas satu smp dan seorang anak yatim bapak meninggal.


Suatu saat, kutersenyum sendiri, karena ia pergi ngaji dengan menggunakan jilbab masa kecilnya dan bahkan ia pun merasa malu dengan menggunakan jilbab itu dan bersembunyi di samping pintu.


Mungkin ia gunakan itu karena keterbatasan jilbab yang ia miliki. Bersyukur, beberapa waktu yang lalu ada seorang ibu mengirimkan jilbab dan saya pun memberikan Dian.


Sekarang Ika dan Dian telah balik, saya pun nasehati mereka atas wajibnya sholat bagi mereka dan wajibnya jilbab atas mereka dan tak boleh lagi bersalaman dengan saya.


Perlahan kumelihat mereka tumbuh berkembang dengan ciri khas seorang muslimah sejati.
Kadang kuberpikir, berdakwah itu ternyata butuh waktu dan konsisten serta sabar.


Apa jadinya mengajarkan mereka satu bulan kemudian tinggal pergi, mungkin yang ada hanyalah sebuah kenangan tapi karakter jama'ah tidak terbentuk.


Sabtu, 22 Oktober 2016

Sahur Bersama 1436 H



Di bulan Ramadhan banyak sekali para dermawan mengekspresikan amalnya, ada yang memberikan jamuan buka bersama, menyantuni anak yatim dan lain-lain.

Nah, di Lingkungan Bogor Manyaran Wonogiri, selain buka bersama kami juga menyediakan sahur bersama untuk para jama'ah yang hendak sholat malam dan dilanjutkan dengan sahur bersama.

Untuk tahun ini, 100% disponsori oleh Yayasann Bina Muwahhidin Surabaya.

Semoga Allah membalas kebaikan Yayasan Bina Muwahhidin dan selalu Allah mudahkan dalam urusan mereka dalam rangka mengembangkan dakwah Islamiah.


Jumat, 21 Oktober 2016

Pak Padmo di Tahun 2015 Januari

Pak Padmo

Pukul 22.45 WIB. Ah, sudah ingin rasanya kurebahkan tubuh kurusku di pembaringan, nanum tiba-tiba wajah wong tua menghantuiku, ia adalah Pak Padmo.

Lihat giginya, tidak sekokoh dulu lagi. Lihat matanya, tak normal lagi memandang. Lihat kulitnya, tak seindah kulit anak muda. Dan coba lihat bacaannya, tak sekeren bacaan kebanyakan wong tua.


Iqra, sebagai buku bacaan terbaiknya di usia senja. Mungkin ia tak bisa mengulang masa muda, tapi ia bisa menimbulkan semangat masa muda. Ya semangat belajar.


Coba lihat hatinya, tak kriput seperti kulit, kini ia mulai merawat hatinya dengan memulai belajar  membaca al-Qur’an.

Semua orang tau, fisik tak mungkin diperbaharui, tapi hati, hati yang sudah kusam, hati yang sudah usang, hati yang sudah hitam, bisa kembali disulap menjadi putih bersih, dengan mau kembali, kembali pada Allah, dan bagi Pak Padmo adalah memulai belajar al-Qur’an.


“Masa lalu biarlah berlalu.” Mungkin seperti itu prinsipnya, yang berlalu biarlah berlalu bersama keburukan kemudian tenggelam dengan masa sekarang bersama kebaikan. Dan kebaikan bagi Pak Padmo, adalah memulai hidup baru di usia tua.


Setiap bertemu denganku, ia tersenyum dengan giginya yang hampir yang tak lagi nyaman. Ia salami aku dengan tangan keras dan kasarnya; tangan orang sawah.
Ia tak banyak berucap denganku, karena tak bisa mengujarkan bahasa Indonesia dengan baik. Diriku pun tak bisa bertanya banyak tentang beliau, karena aku pun tak bisa bahasa Jawa.

Namun yang pasti, terpancar dari wajah beliau rasa terima kasih; aku bisa berada di tengah-tengah mereka mengajarkan Qur’an di sisa-sisa umur mereka.


Kali ini baju yang ia kenakan lumayan keren, biasanya ia hanya menggunakan baju yang sudah tua dan kusut untuk sholat. Mungkin baginya itu adalah baju yang paling istimewa yang ia punya ketimbang baju yang ia gunakan untuk ke sawah.


Sekarang, hidup mewah sudah tidak ada di benaknya lagi, yang ada sekarang adalah, bagaimana ia meninggal dan bisa membaca al-Qur’an, dan sedikit bisa memahami agamanya yang dulunya hanya sebuah nama.


Terakhir pesan untuk Pak Padmo, bahwa orang yang terbata-bata membaca al-Qur’an, baginya dua pahala. Semoga pahala itu untuk bapak, dan semoga suatu saat aku dan bapak dan semua orang muslim bisa mencium bau surga sambil tersenyum. Allahumma aamiin.


Terima kasih untuk saudara-saudari yang telah menyisihkan sedikit rizkinya untuk Iqra dan Qur’an mereka. Berharap bisa juga punya sarana belajar.


Sekarang Pak Padmo sudah bisa membaca al-Qur’an dan rutin ikut ngaji dan pengajian.


Irsun Badrun
Lingkungan Bogor Manyaran 08 Januari 2015

Kamis, 20 Oktober 2016

Basah Pipiku LIhat Ibu Desum

Kulitnya keriput. Berdirinya tak tegak. Bicaranya mulai tak jelas. Tubuhnya gemetar. Matanya buram. Dia adalah ibu Sumiati. Hanya bermodal kemauan, ia baru memulai mengeja huruf hijayyah.



Terbata-bata dan penuh susah payah, ia berusaha tuk sabar hanya satu asa, ‘bisa membaca al-Qur’an’.


Lihat tangannya, gemetar memegang iqra, gemetar menunjuk deretan huruf, namun hatinya tak pernah gemetar tuk menyerah.



Huruf  Zey huruf yang sangat susah beliau sebutkan, tak jelas apa yang ia sebutkan, tapi ia tak pernah merasa gengsi untuk belajar.


Rinai air mataku tak tertahan. Ia membuatku menangis tersedu-sedu. Kubertanya, “Di mana aku selama ini?”



Kusadari, orang seperti ibu Sumiati tidaklah sendiri, di sana ada jutaan muslim yang bahkan tak bisa membaca kitab petunjuknya sendiri. Mulai dari kalangan awam, sampai pada kalangan intelektual.



Ya, biarlah mereka sibuk dengan dunia mereka sendiri sekarang ini, namun besar harapan, suatu saat mereka bisa seperti ibu Sumiati sebelum ajal menjemput mereka; mau belajar al-Qur’an.




Teringat dengan cerita nenekku, dahulu ia tak bisa membaca al-Qur’an. Ketika ia melihat orang membaca al-Qur’an, ia menangis tersedu-sedu dan berdoa serta berazam dalam hati, bahwa anaknya nanti dan seluruh  keturunannya harus bisa membaca Qur’an.




Berawal dari doa itu, ibu dan bapakku menjadi seorang guru ngaji. Ya, walau tak dipandang manusia, tapi mereka berprinsip, mereka mulia di hadapan Tuhan manusia.




Terima kasih untuk yang sudah membantu ibu Sumiati dan kawan-kawannya memperoleh Iqra. Baarakallahu fiikum.
Irsun Badrun
Manyaran 06 Januari 2015

Rabu, 19 Oktober 2016

Pengembangan Kompetensi Dengan Kompetisi

 Promosi Kegiatan
 Penyediaan Penghargaan
 Mempersiapkan Konsumsi Oleh Ibu-Ibu Majlis Taklim
 Pembinaan Keagamaan Di Dusun Karanglor
 Peserta Lomba Mulai Berdatangan
 Peserta Lomba Mendengarkan Sambutan Ust. Irsun Badrun
 Peserta Lomba Memadati Area Lomba Yang Minimalisir
 Registrasi Peserta
 Menyaksikan Lomba Hafalan 1 Juz
 Demonstrasi Hafalan Nenek-Nenek Sampai Membuat Penonton Menangis
 Pengarahan Sesepuh Agama Manyaran
 Penyerahan Cindera Mata Untuk Polres Manyaran Yang Diserahkan oleh Lurah Pagutan
 Salah Satu Dewan Juri Hasta Karya
 Salah Satu Peserta Cerdas Cermat Islami
 Demonstrasi Hafalan
 Penyerahan Hadiah
 Penyerahan Hadiah
 Penyerahan Hadiah
 Buah Tangan Remaja
 Mendongeng
Tes Hafalan Satu Juz


Acara ini disponsori oleh:
1. Yayasan Bina Muwahhidin Surabaya
2. Ibu-Ibu Belanda
3. Warga Bogor Pagutan Manyaran

Menghabiskan dana 14 juta rupiah.

***

Bagi yang ingin memberikan donasi untuk kegiatan Kampus Masyarakat Muslim Jami' Syababul Arbi'a, Maka silahkan hubungi kami di email kampusmasyarakatmuslim@gmail.com atau HP. 082134799822 a/n. Ust. Irsun Anwar Badrun.