Pak Padmo
Pukul 22.45 WIB. Ah, sudah ingin rasanya kurebahkan tubuh
kurusku di pembaringan, nanum tiba-tiba wajah wong tua menghantuiku, ia adalah
Pak Padmo.
Lihat giginya, tidak sekokoh dulu lagi. Lihat matanya,
tak normal lagi memandang. Lihat kulitnya, tak seindah kulit anak muda. Dan
coba lihat bacaannya, tak sekeren bacaan kebanyakan wong tua.
Iqra, sebagai buku bacaan terbaiknya di usia senja.
Mungkin ia tak bisa mengulang masa muda, tapi ia bisa menimbulkan semangat masa
muda. Ya semangat belajar.
Coba lihat hatinya, tak kriput seperti kulit, kini ia
mulai merawat hatinya dengan memulai belajar
membaca al-Qur’an.
Semua orang tau, fisik tak mungkin diperbaharui, tapi
hati, hati yang sudah kusam, hati yang sudah usang, hati yang sudah hitam, bisa
kembali disulap menjadi putih bersih, dengan mau kembali, kembali pada Allah,
dan bagi Pak Padmo adalah memulai belajar al-Qur’an.
“Masa lalu biarlah berlalu.” Mungkin seperti itu
prinsipnya, yang berlalu biarlah berlalu bersama keburukan kemudian tenggelam
dengan masa sekarang bersama kebaikan. Dan kebaikan bagi Pak Padmo, adalah
memulai hidup baru di usia tua.
Setiap bertemu denganku, ia tersenyum dengan giginya yang
hampir yang tak lagi nyaman. Ia salami aku dengan tangan keras dan kasarnya;
tangan orang sawah.
Ia tak banyak berucap denganku, karena tak bisa
mengujarkan bahasa Indonesia dengan baik. Diriku pun tak bisa bertanya banyak
tentang beliau, karena aku pun tak bisa bahasa Jawa.
Namun yang pasti, terpancar dari wajah beliau rasa terima
kasih; aku bisa berada di tengah-tengah mereka mengajarkan Qur’an di sisa-sisa
umur mereka.
Kali ini baju yang ia kenakan lumayan keren, biasanya ia
hanya menggunakan baju yang sudah tua dan kusut untuk sholat. Mungkin baginya
itu adalah baju yang paling istimewa yang ia punya ketimbang baju yang ia
gunakan untuk ke sawah.
Sekarang, hidup mewah sudah tidak ada di benaknya lagi,
yang ada sekarang adalah, bagaimana ia meninggal dan bisa membaca al-Qur’an,
dan sedikit bisa memahami agamanya yang dulunya hanya sebuah nama.
Terakhir pesan untuk Pak Padmo, bahwa orang yang
terbata-bata membaca al-Qur’an, baginya dua pahala. Semoga pahala itu untuk
bapak, dan semoga suatu saat aku dan bapak dan semua orang muslim bisa mencium
bau surga sambil tersenyum. Allahumma aamiin.
Terima kasih untuk saudara-saudari yang telah menyisihkan
sedikit rizkinya untuk Iqra dan Qur’an mereka. Berharap bisa juga punya sarana
belajar.
Sekarang Pak Padmo sudah bisa membaca al-Qur’an dan rutin ikut ngaji dan pengajian.
Irsun Badrun
Lingkungan Bogor Manyaran 08 Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar