Kamis, 27 Oktober 2016

Dian Kiri Dan Ika Kanan


Saat pertama kali saya tiba, mereka adalah anak kecil. Mereka bermain denganku, berjalan dan berlari bersamaku.


Saat itu, mereka masih pakai celana pendek, kaos oblong dan mungkin bisa dibilang ingusan.
Sampai suatu saat kita bermain dan si Ika menabrak dinding dan copot satu giginya. Saya buka mulutnya dan keluarkan giginya.


Sekarang mereka sudah berbeda. Mereka sudah tumbuh dewasa, dan hafalan mereka pun sudah mencapai satu juz.


Dian, sekarang sudah tidak mengenakkan celana pendek lagi, setiap keluar sudah menutup auratnya walau masih kelas satu smp dan seorang anak yatim bapak meninggal.


Suatu saat, kutersenyum sendiri, karena ia pergi ngaji dengan menggunakan jilbab masa kecilnya dan bahkan ia pun merasa malu dengan menggunakan jilbab itu dan bersembunyi di samping pintu.


Mungkin ia gunakan itu karena keterbatasan jilbab yang ia miliki. Bersyukur, beberapa waktu yang lalu ada seorang ibu mengirimkan jilbab dan saya pun memberikan Dian.


Sekarang Ika dan Dian telah balik, saya pun nasehati mereka atas wajibnya sholat bagi mereka dan wajibnya jilbab atas mereka dan tak boleh lagi bersalaman dengan saya.


Perlahan kumelihat mereka tumbuh berkembang dengan ciri khas seorang muslimah sejati.
Kadang kuberpikir, berdakwah itu ternyata butuh waktu dan konsisten serta sabar.


Apa jadinya mengajarkan mereka satu bulan kemudian tinggal pergi, mungkin yang ada hanyalah sebuah kenangan tapi karakter jama'ah tidak terbentuk.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar